Kamis, 16 Januari 2025

Pergilah

PERGILAH


Kasih...

Di malam yang sunyi ini, aku tenggelam dalam rasa yang seharusnya tak pernah ada. Aku mencintaimu, tapi cinta ini seperti dosa yang tak terampuni. Setiap detak jantungku membawa namamu, namun hanya untuk melukaiku lebih dalam. Kau tak pernah tahu, dan mungkin tak akan pernah peduli.

Kasih...

Aku memandangmu dari jauh, seperti menatap bintang yang indah namun tak bisa kuraih. Setiap senyummu menorehkan luka di hatiku, mengingatkanku bahwa aku hanyalah bayangan, tak pernah berarti apa-apa bagimu. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku, tapi cinta ini tak berdaya, seperti angin yang berhembus tanpa arah.

Kasih... 

Aku bertanya pada diriku sendiri, apa salahku hingga harus jatuh cinta padamu? Mengapa hati ini memilih jalan yang hanya penuh kegelapan? Aku mencoba melupakan, mencoba membunuh rasa ini, tapi semakin aku berusaha, semakin kuat ia mencengkeramku. Aku terjebak, tak ada jalan keluar, tak ada harapan.

Kasih...

Aku lelah. Aku lelah mencintai dalam diam. Aku lelah berharap pada sesuatu yang tak pernah akan terjadi. Cinta ini menggerogoti jiwaku, memakan kebahagiaanku, hingga aku hanya menyisakan kehampaan. Aku ingin berhenti mencintaimu, tapi hatiku tak mengizinkan.

Kasih...

Malam ini aku berdiri di tepi jurang kehidupan. Aku sudah kehilangan segalanya—bahkan diriku sendiri. Aku tahu ini salah, tapi aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin rasa ini berhenti, bahkan jika itu berarti aku harus berhenti juga.

Dan jika suatu hari kau mendengar kisahku, jangan merasa bersalah. Ini bukan salahmu. Ini hanyalah cerita cinta yang berakhir seperti takdir yang sudah ditentukan sejak awal—sebuah rasa yang lahir untuk mati dalam kegelapan. Selamat tinggal, kasih. Biarkan aku pergi bersama cinta ini, yang tak pernah bisa menjadi milikmu.