Selasa, 17 Desember 2024

Cinta Karena Allah atau Karena Nafsu

 Cinta yang Dititipkan Allah 

atau

Ujian Nafsu

Suatu malam ketika hujan deras mengguyur bumi, aku singgah berteduh di teras sebuah rumah warga. Dingin angin menusuk tulang, tetesan hujan berjatuhan tanpa jeda, tetapi sesuatu mengalihkan perhatianku. Di sela-sela derasnya hujan dan desiran angin, sayup-sayup terdengar suara yang begitu menyejukkan. Lantunan kalam suci itu keluar dari seorang wanita, suaranya begitu khusyuk, merdu, dan menyentuh hati. Aku terpaku di sana, seakan dinginnya angin lenyap, derasnya hujan membisu. Hatiku bergetar, terasa lembut seperti tersiram embun di pagi hari. Entah mengapa, suara itu menyentuh sesuatu dalam jiwaku yang terdalam.

Sejak saat itu, suara itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Suara yang beriringan dengan kalam suci, menyatu dalam harmoni yang indah. Tak ada wajah yang kubayangkan, hanya suara yang menggema dalam kesunyian hatiku. Namun, setiap kali suara itu hadir di benakku, jantungku berdebar. Getaran yang tak biasa, getaran yang memunculkan pertanyaan dalam diriku. Apakah ini cinta yang Allah titipkan, ataukah bisikan nafsu yang samar, menunggangi kelembutan kalam-Nya? Aku takut jika rasa ini hanya tipu daya, bukan rasa yang dilandaskan pada keikhlasan karena-Nya.

Malam-malamku dilalui dengan gelisah. Langit yang sunyi menjadi saksi bagaimana aku tak kunjung menemukan kedamaian. Siang hariku terasa panjang, dipenuhi harapan-harapan yang tak berani kuungkapkan. Aku ingin mencintainya karena Allah, aku ingin rasa ini menjadi cahaya, bukan kegelapan yang menggelincirkan langkahku. Namun, aku lemah. Aku tak punya kekuatan untuk memastikan apa yang terbaik untuk dilakukan. Setiap doa yang kupanjatkan terhenti di ujung lidah, setiap harapan yang kucipta berbalik menjadi keraguan.

Sajadah dan tasbih menjadi saksi bisu atas segala jeritan hatiku. Dalam setiap sujud panjangku, kubisikkan doa memohon petunjuk. "Ya Allah, jika rasa ini murni dari-Mu, maka peliharalah. Jadikan rasa ini jalan menuju ridha-Mu. Namun jika ini hanya bisikan syaitan yang membelokkan hatiku, maka lenyapkanlah tanpa sisa, meski hatiku harus remuk berkeping-keping." Aku memohon perlindungan-Nya dari cintaku yang semu, dari nafsuku sebagai manusia biasa. Aku tak ingin mencintai makhluk lebih dari aku mencintai-Nya.

Kini, aku terus berjuang dalam diam, memohon agar Allah menuntun hatiku pada jalan yang lurus. Aku ingin menjadi lelaki yang memuliakan cintanya dengan doa, bukan dengan nafsu. Biarlah Ia yang Maha Mengetahui segala isi hati ini memutuskan takdirnya. Jika wanita itu memang takdirku, semoga Allah menyempurnakan cintaku kepadanya karena iman, bukan sekadar ketertarikan dunia. Dan jika tidak, biarlah cinta ini menjadi pengingat, bahwa setiap perasaan hanya milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.



0 komentar:

Posting Komentar