SEPASANG HATI YANG BEKU
Desiran angin menyelinap dari celah jendela, membelai wajahku dengan dingin yang menusuk hingga ke dalam jiwa. Kamar ini, sunyi dan gelap, adalah saksi bisu dari luka yang kupelihara tanpa pernah sembuh. Mataku kosong, menatap ketiadaan, sementara bibirku bergetar, berusaha mengucapkan sesuatu yang tak pernah terdengar. Rasa perih menghuni hatiku, seperti pisau yang tak terlihat namun terus menggores, meninggalkan sakit yang tak pernah hilang.
Detak jam dinding berdentang, keras dan berulang, seperti palu yang menghantam dadaku. Suaranya tak hanya memenuhi ruangan ini, tetapi juga memenuhi pikiranku, memaksa ingatan-ingatan yang kupendam untuk kembali. Jantungku berdentum mengikuti irama waktu yang tak pernah berhenti, tetapi semua terasa sia-sia. Aku hanyalah serpihan manusia yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, hari-hari yang telah lama tenggelam dalam kelam.
Aku pernah menaruh seluruh cintaku padamu, menyematkannya di setiap sudut hatiku yang kosong. Aku biarkan warna cintamu menyerap, mengubah seluruh warna yang dulu adalah milikku sendiri. Cinta itu kusisipkan ke dalam setiap rongga tulangku, berharap ia akan menjadi kekuatan yang membuatku mampu berdiri tegak. Tapi kenyataannya, cinta itu bukan kekuatan—ia adalah belenggu yang membuatku tak mampu bergerak, tak mampu pergi. Aku menjelma menjadi bayangmu, tetapi kau bahkan tak pernah melihatku.
Aku bermimpi tentang kehangatan, tentang jemariku yang menyentuh tanganmu, tentang detak jantung yang selaras dengan milikmu. Namun, setiap kali aku membuka mata, kenyataan menusuk lebih dalam. Yang kutemukan hanya dinding yang dingin, lemari bisu, meja yang berdebu, dan seprai yang tak pernah hangat lagi. Kau menghilang, meninggalkan aku bersama sepi yang terus menggema di ruang ini.
Lima tahun telah berlalu sejak kau pergi, tetapi dingin itu tetap tinggal, merayap ke setiap sudut hidupku. Aku telah mencoba bertahan, tetapi tubuhku mulai menggetas, seperti kaca yang retak sedikit demi sedikit. Aku tahu, pada akhirnya aku akan hancur, namun kehancuran ini tak akan membebaskanku. Aku akan tetap terkurung dalam cinta yang pernah kubangun untukmu, cinta yang kini menjadi penjaraku sendiri.
Aku ingin melawan, ingin melarikan diri dari rasa ini, tetapi bagaimana mungkin? Aku adalah ciptaan cintamu. Setiap serat di tubuhku, setiap getaran dalam jiwaku, adalah milikmu. Aku telah menyerahkan segalanya, dan kau mengambil segalanya tanpa pernah memberiku apa pun kembali. Kau adalah penjaga nyawaku, tetapi kau memilih membiarkannya layu perlahan.
Aku tak mampu lagi memohon, tak sanggup lagi menangis. Apa yang harus kuminta dari seseorang yang telah mengerti segalanya tentang diriku, tetapi memilih berpaling? Kau tahu aku hancur, kau tahu aku tenggelam, tetapi kau tetap diam, membiarkan aku lebur menjadi abu tanpa cahaya.
Kini, aku hanya menunggu. Menunggu saat ketika detak jam dinding ini berhenti, saat dunia tak lagi menahanku di sini. Aku tak takut pada keranda yang akan membawaku pergi; aku bahkan merindukannya. Mungkin, hanya dalam kematian aku akan bebas, dan mungkin, hanya saat itu kau akan merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang darimu.
Aku tidak lagi berharap. Bahkan jika kebahagiaan datang mengetuk pintu, aku tahu itu hanyalah topeng, palsu seperti semua janji yang pernah kubuat untuk diriku sendiri. Kini, aku hidup dalam sepi, merangkul dingin yang tak pernah pergi, menyimpan harapan yang tak pernah tumbuh.
Dan ketika waktuku tiba, mungkin kau akan merasakan kekosongan yang memilukan. Kau akan menatap bayanganmu di cermin dan melihat diriku di sana, seseorang yang pernah menjadi seluruh duniamu tetapi kau biarkan memudar. Namun, saat itu aku telah tiada, dan hanya bayanganku yang akan terus menghantuimu, seperti rindu yang tak pernah selesai, menjadi luka yang tak pernah sembuh hingga akhir hidupmu.

0 komentar:
Posting Komentar