Sabtu, 07 Maret 2015

Kerinduan

RINDU

Matahari perlahan pamit berlabuh di ufuk barat, rona kemerahan diakhir senja memancarkan gambaran luka hati yang merana terpanggang bara kerinduan.

Gelap datang diiringi riuh satwa malam, awan berubah hitam, petir mulai menyapa, angin semilir yang semula lembut kini perlahan berteriak seakan murka. Tapi sepotong hati tak bergeming, mata yang nanar menatap gambarmu di pangkuan, ujung jemari silih berganti mengelus, dan bibir-pun entah sudah yang keberapa kali mengecup tapi tak mampu redakan pilu yang bergelayut.

Lampu kamar redup, hening dalam gemuruh badai, sepotong hati yang menumpang dalam tubuh yang lemah ikut rebah di pembaringan, ingatan selalu hadirkan bayangmu dan mata-pun membelai pipi dengan uluran titik-titik air, rongga dada bergemuruh bersama guntur dan isak tangis mengikuti irama petir. Sepotong hati yang menjaga cinta menikmati kesedihan menjalani misteri malam.

Saat kabut berkeliling lorong, menyapa taman-taman, dan singgah menghiasi ujung-ujung dedaunan dengan harapan dapat memberi kesejukan, namun sepotong hati yang mengasuh cinta tetap membara. Saat jendela terbuka, hawa kabut segera meresap namun terpental oleh bara dari sepotong hati yang menanti kekasih tuk kembali bersama meniti hari.

Embun tersenyum ramah di pucuk cemara dan lembut menyapa dengan kilauan bak mutiara namun tak dihiraukan oleh sepotong hati yang mengagungkan cinta. Lunglai berjalan munuju beranda, setiap yang lewat ditatap seksama, namun yang nampak bukanlah wajah yang telah meletakkan cinta. Cinta yang agung disemai oleh seorang yang diagungkan, lalu diletakkan dalam hati lalu ditinggalkan. 

Sepotong hati yang teguh mengasuh cinta tak peduli sang tubuh rapuh karenanya, dan cinta-pun kan tetap abadi bersama sepotong hati hingga dunia ini berganti.



0 komentar:

Posting Komentar