Retaknya Hati yang Rapuh
Desiran angin pelan dari celah jendela, sejuk membelai wajahku dalam diam di sudut kamar, pandangan kosong, hanya bibir yang bergetar..... Ada rasa perih dihati, sakit dan pilu.
Detak jam dinding bertalu bagai guntur memekak telinga tiada henti, membuat jantung berdentum, semua lebur bersama bayang hari-hari yang suram.
Sekian lama aku berusaha meletakkan cinta untukmu disemua ruang hatiku sampai warna hatiku berubah menjadi warna cintamu, lalu cinta itu aku masukkan dalam setiap rongga tulang dalam tubuhku sambil berharap cintamu dapat membuatku tegak melanglang buana, kemudian cintamu aku sematkan dalam tiap belikat daging tubuhku sehingga aku membentuk seperti bentuk cintamu....... akhirnya cintamu-pun mengalir jadi darah dalam nadiku dengan warna darah cintamu, dan aku sempurna menjelma seutuhnya untukmu.
Aku mulai bermimpi mendapat getaran hati dari genggaman tanganmu, jemariku bergerak pelan memastikan ada sentuhan..... namun yang terasa hanyalah kekosongan, kubuka mataku yang nampak hanyalah dinding, lemari, meja, dan seprai yang dingin.
Lima kali pergantian tahun aku terbenam dalam kedinginan, kau biarkan hati, jiwa dan tubuhku membeku....... dan kini menggetas. Ingin kulepas dari semua ini, tapi aku seluruhnya adalah cintamu yang luluh pada semua kehendakmu.
Aku tak sanggup lagi memelas dan menghiba memohon setitik kebahagiaan sekedip mata saja, sebab aku tahu bahwa kau lebih tahu tentang diriku daripada aku.
Kini aku hanya menunggu sampai kapan akhir detak jam dinding itu terdengar ditelingaku, dan keranda mengantar pergi. Mungkin pada saat itulah baru dapat kau rasakan sesuatu yang berbeda.
Aku tak berharap dapat lebih lama, sebab meskipun ada kado bahagia itu cuma palsu belaka. Kini aku hanya mampu menikmati sepi yang beku dalam kesendirian tanpamu.


0 komentar:
Posting Komentar